www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Ringgit di Teras Utara

Posted by On 02.25

Ringgit di Teras Utara

  • PROKAL.co
    • PROKAL NEWS
    • PRO KALTIM
      • KALTIM POST
      • BALIKPAPAN POS
      • SAMARINDA POS
      • BONTANG POST
      • BERAU POST
    • PRO KALTARA
      • RADAR TARAKAN
      • BULUNGAN POST
      • KALTARA POS
    • PRO KALSEL
      • RADAR BANJARMASIN
    • PRO KALTENG
      • KALTENG POS
      • RADAR SAMPIT
    • PRO KALBAR
  • BalikpapanTV
  • SamarindaTV
  • KPFMBalikpapan
  • KPFMSamarinda
  • Indeks Berita
MANAGED BY: SELASA
26 JUNI RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA
Senin, 25 Juni 2018 23:04 Ringgit di Teras Utara PENGGUNAAN RINGGIT: Masyarakat Sebatik masih banyak yang menggunakan uang ringgit Malaysia untuk bertransaksi jual beli. Foto: Ruri Jamianto

PROKAL.CO, Ringgit tak bisa dilepaskan dari masyarakat Pulau Sebatik, di ujung Utara Provinsi Kalimantan Utara. Di empat kecamatan, Sebatik Barat, Sebatik Tengah, Sebatik Utara dan Sebatik Timur mudah ditemui warga bertransaksi dengan menggunakan mata uang Malaysia. Peredaran dua mata uang, rupiah dan ringgit sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Hubungan perdagangan tradisional tak memberi pilihan bagi warga Indonesia sepenuhnya menggunakan rupiah. Berikut liputannya. ---- SEDERET infrastruktur, mulai dari Pelabuhan Sei Nyamuk, dermaga Pos TNI AL Sei Pancang, Jalan Lingkar Sei Nyamuk-Bambangan, Rumah Sakit Pratama, dan beberapa fasilitas umum lain membuktikan Sebatik terus bergerak maju. Perlahan menghapus ketertinggalan dengan Tawau, kota ketiga terbesar di negara bagian Sabah, Malaysia. Pun di mata sejumlah tokoh masya rakatnya yang berpuluh tahun hidup berdampingan dengan negara bekas jajahan Inggris itu. Di Sebatik pada 1970-an, akrab di pandangan rumah panggung sederhana berkonstruksi kayu. Termasuk rumah orang tua H. Herman Baco. Di dinding ruangan kantor swalayan miliknya di Jalan Pantai, Sei Nyamuk, Sebatik Timur, sebuah citra foto rumah kayu reyot digantung, dibingkai kayu berklir hitam. Sarat nilai sejarah. “Rumah orang dahulu di Sebatik, seperti ini. Termasuk orang tua saya. Ini juga sekaligus menjaga ingatan saya, jika keluarga kami dulu juga berasal dari keluarga kurang mampu. Namun, kami tetap berusaha,” kisah pria yang akrab disapa Haji Andeng itu ramah, Jumat (22/6) pagi. Haji Andeng muda merogoh kocek, berbelanja di sebuah pasar di tengah kampung, Sei Nyamuk pada 1979 silam. Isi kantongnya ringgit, uang Malaysia, dari pecahan kertas hingga sen dalam bentuk koin logam. Ringgit, alat tukar warga Sebatik. Saat itu masih tergabung sebagai wilayah Kabupaten Bulungan. “Semua belanja nya pakai ringgit, di Sebatik ini,” ujarnya. Sebatik dan Tawau, dua wilayah dengan hubungan yang sangat kuat. Bukan rahasia, warga Sebatik memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papannya dari sana. Perekonomian Tawau juga disokong masyarakat Sebatik yang berlalu lalang. Apakah berbelanja kebutuhan atau sekadar melepas penat. “Kami di perbatasan sangat cinta Indonesia. Tapi, apa yang berlaku di perbatasan saat ini, adalah bagian dari kearifan lokal. Begitu juga upaya kami dalam memenuhi kebutuhan, utamanya sembako,” urai pria yang akan berulang tahun ke-56 pada 8 Agustus mendatang ini. Ringgit berpindah dari tangan ke tangan. Dari tangan buruh migran yang melintas, atau warga yang baru kembali dari Tawau menjual hasil bumi seperti pisang, daun pisang, serai, buah-buahan, kelapa, kokoa atau hasil perikanan. Ringgit kemudian terhimpun di tangan pedagang atau tukang valas alias money changer perorangan di pintu-pintu pelabuhan. Ringgit-ringgit itu akan kembali menuju Malaysia, dib elanjakan kebutuhan pokok dalam jumlah tertentu. “Tentu kami belanjanya di Malaysia dengan pakai ringgit toh. Biasa bawa dari sini, biasa juga ditukar di sana,” terangnya. Muhammad Fadlan (31) baru dikaruniai anak perempuan dari pernikahannya dengan seorang warga Aji Kuning, Sebatik Tengah awal tahun ini. Sejak menikah, Fadlan memilih menetap di rumah istrinya di RT 02 Aji Kuning yang hanya beberapa langkah dari Patok 3, patok perbatasan Indonesia-Malaysia yang menjadi langganan kunjungan pejabat pemerintah pusat. Menjadi pemandangan sehari-hari, kebutuhan rumah tangga dipenuhi dari transaksi dengan menggunakan ringgit. “Kalau saya di Sei Bajo, belanjanya rupiah. Tapi di sini, kalau istri, saya biasa belanjanya pakai ringgit. Karena mau pakai rupiah, malah harga barang lebih mahal jadinya. Apalagi, warga di sekitar Patok 3 ini, yah jualannya barang-barang Malaysia,” tutur Fadlan. “Depan rumah saya ini semuanya produk Malaysia. Seperti permen, gula pasir, minyak goreng, ber as, dan elpiji. Hanya Indomie (mi instan) sama obat-obatan seperti obat sakit kepala dan obat sakit perut dari Indonesia,” ucap Fadlan berdiri menunjuk keluar teras rumahnya. Radar Tarakan sempat mampir di salah satu toko di Sei Nyamuk, sekadar bertukar rupiah ke ringgit. Jaraknya sekira 10 menit dari rumah Fadlan. Uangnya ada. Nilai 1 Ringgit Malaysia (RM) dikurskan Rp 3.520 per Jumat 22 Juni lalu. Ardi (35) membuka brankas besi di toko itu. “Berapa ringgit Pak? Kalau biasanya begini, kami hanya bantu (tukar),” kata Ardi kepada pewarta. Dapat RM 200. Tidak cukup lima menit, ringgit sudah di tangan. Total rupiah yang ditukar Rp 704 ribu. Pewarta juga mencoba menukar uang di Teras Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Aji Kuning, hanya berjarak ratusan meter dari rumah Fadlan. Jam menunjuk sekira pukul 14.30 Wita. Setengah jam lagi, layanan yang buka Senin sampai Jumat itu akan tutup. Pewarta harus mengantre sekira 15 menit. Pewarta juga dimintai identitas diri berupa kartu tanda pend uduk (KTP). Nilai tukar ringgit di Teras BRI di Jalan Mulawarman RT 01 sebesar Rp 3.560. Lebih mahal dibanding di toko di Sei Bajo sebelumnya. Uang sebesar Rp 200 ribu ditukar dengan RM 55. Tidak seluruhnya bisa ditukar, sang petugas bank menyertakan dua lembar pecahan Rp 2.000. “Tidak semuanya bisa. Gak ada pecahan kecil kan. Yang bisa ditukar cuma Rp 196 ribu,” kata petugas berparas ayu itu. Fadlan mengungkap, dalam lingkup perdagangan tradisional, berbelanja dengan rupiah justru lebih mahal. Pewarta pun mencoba membuktikan ucapan Fadlan dengan berbelanja di salah satu toko kelontong. Sang pedagang menawarkan dua alat pembayaran, ringgit dan rupiah. Seperti air mineral kemasan dalam botol, dihargai RM 1. Jika memakai mata uang rupiah sebesar Rp 4.000. “Pedagang tidak mau ribet misalnya dengan kembalian kecil. Jadi dibulatkan menjadi Rp 4.000. Mau tidak mau, kami yang sering berbelanja, harus mengantongi ringgit. Pedagang juga berpikir, menghimpun rupiah dalam jumlah banyak, justru ribet ketika akan berbelanja lagi di Tawau,” urainya. Di Aji Kuning mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, nelayan dan pedagang lintas batas. Perekonomian masyarakat Desa Aji Kuning bersumber dari pertanian, perdagangan, rumah makan, dan nelayan. Secara geografis, Aji Kuning berbatasan langsung dengan daratan Sabah. Penduduk Desa Aji Kuning sebagian besar merupakan etnis Bugis-Makassar. Komoditas utama yang masih bergantung dengan negara tetangga di antaranya gas elpiji, daging ayam, daging sapi, minyak makan, tepung dan gula. Di antara komoditas tersebut, hanya daging sapi yang tak disubsidi pemerintah Malaysia. MENGUNTUNGKAN, HASIL BUMI MENUJU TAWAU Pada beberapa hasil pertanian dan perkebunan warga Pulau Sebatik hanya dipasarkan di Tawau. Hasil pertanian masyarakat ini memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Tawau, seperti sayur-sayuran berupa tomat, cabai, kacang hingga kelapa sawit. Camat Sebatik Induk Muhlis menuturkan hasil bumi masyarakat setiap hari dijual kepada pengusaha di Tawau. Menurut dia, hasil kebun dan pertanian masyarakat diangkut dengan menggunakan perahu ketinting melalui Sei Aji Kuning dan Sei Lalesalo setiap hari. Sementara petani kelapa sawit perlahan dapat menegakkan kepala. Hadirnya pabrik pengolahan di Sebatik-Indonesia membuat harga kelapa sawit lebih stabil. Jauh sebelum itu, ‘dimainkan’ para tengkulak di Tawau. "Harga hasil kebun masyarakat Sebatik biasa dibeli murah oleh pedagang di sana (Tawau) kalau diketahui banyak pasokan. Tapi, sekarang sudah membaik, karena kita punya pabriknya juga di sini,” terang Muhlis di ruang kerjanya di Kantor Kecamatan Sebatik Induk di Sei Taiwan. Komandan Pos TNI Angkatan Laut (AL) Sei Pancang Lettu K. Arumbay mengungkapkan jika masyarakat Sebatik lebih memilih barang produksi Malaysia karena lebih ekonomis dan mudah diperoleh. Dengan sendirinya menggiring ringgit sebagai alat transaksi utama. “Mereka memilih untuk membeli barang di Tawau, ketimbang harus berbe lanja dari Surabaya atau daerah lainnya. Karena, tingginya biaya transportasi pengiriman barang. Selain itu, jarak Sebatik dan Tawau sangatlah dekat. Cuma 15 menit, sudah sampai di Tawau,” ungkap Arumbay ditemui di Pos TNI AL Sei Pancang, Sebatik Utara pekan lalu. Ringgit dominan, dibawa para pedagang lintas batas. “Tak dapat dipungkiri juga kami hidup dari barang-barang itu. Mau tidak mau. Sudah menjadi kearifan lokal di sini. Tanpa mereka (pedagang lintas batas), kami tidak tahu akan hidup dan makan dari mana,” bebernya. (eru/lim)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 20 Juni 2018 15:22 Debat Kandidat Pilwali Tarakan 2018

Mantan Wakil Wali Kota Ini Melempar Pertanyaan Jenius

TARAKAN - Mulai pukul 20.00 Wita, para pasangan calon (paslon) mulai memasuki panggung utama debat di… Jumat, 15 Juni 2018 10:15

Hari Raya, Sepi Penumpang

TARAKAN - Suasana di Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan nampak lengang. Berdasarkan pantauan… Jumat, 15 Juni 2018 06:13 Piala Dunia 2018

Ketika Tim Raja Salman Dihancurkan di Laga Pembuka Piala Dunia

MOSKOW - Timnas sepakbola Arab Saudi menjadi bulan-bulanan timnas Rusia dalam laga pembuka Piala Dunia… Selasa, 12 Juni 2018 21:33 Speedboat Kecelakaan

Kapal Bersenggolan, 11 Penumpang Batal Mudik

TARAKAN â€" Kecelakaan laut (laka laut) kembali terjadi di perairan Tarakan, Selasa (12/6). Dua… Rabu, 30 Mei 2018 17:17

Mobil Terjun Bebas ke Parit, Jadi Tontonan Warga

TARAKAN - Sekira Pukul 15.30 Wita, sebuah mobil terjun bebas masuk ke drainase di RT 11… Selasa, 29 Mei 2018 22:12

24 Balon Melaju ke Verifikasi Faktual

TANJUNG SELOR â€" Dari 33 bakal calon (balon) anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) perwakilan Provinsi… Minggu, 20 Mei 2018 20:46 0 0 Jumat, 18 Mei 2018 12:00

Suka Bagi Video ISIS

MENILIK kehidupan AS, terduga teroris selama di Tarakan, ia diketahui pernah bersekolah di salah satu… Kamis, 10 Mei 2018 00:45 Kasus Korupsi Pengadaan Lahan di Nunukan

Budiman Divonis Bebas, Tak Ada Bukti Kuat

SAMARINDA â€" Usai Ketua Majelis Hakim Abdul Rahman Karim, di Pengadilan Tipikor Samarinda mengetuk… Rabu, 09 Mei 2018 00:08

Demi Juara Umum, Datangkan Pelatih Bertaraf Internasional

TARAKAN - Para peserta MTQ ke-III tingkat Provinsi Kalimantan Utara, Selasa (8/5) sudah tiba di Kota… Harga Sembako Kembali Stabil Arus Balik Normal, Tak Ada Lonjakan Penumpang Tujuan Utama Pengiriman Miras Belum Diketahui Min imalisir Kecelakaan, Tutup Persimpangan IIH LEBAY..!! Buaya Ditangkap, Kok.. Tiga Warga yang Kerasukan 70 Persen Speedboat Reguler Buat Pintu Darurat Miliki 9 Titik Potensi Ladang Migas Kerap Pimpin Salat Jumat dan Idul Fitri di Dalam Rutan Kuota Produksi Batu Bara Kaltara Diturunkan Kemen ESDM Awas Hoaks Penerimaan CPNS 2018
  • Polres Sudah Periksa Saksi
  • Dugaan Mobilisasi Massa, Itu Hoax!
  • Evaluasi 2018, Penumpang Meningkat 7 Persen
  • Ramadan dan Idul Fitri, Proyeksi Melampaui Target
  • Jalan Rusak Akhirnya Akan Diaspal
  • Distribusi Logistik Dikebut
  • Hari Pertama, Berikan Pengarahan ke ASN
  • Pengangkatan Bangkai Kapal Warmond Terbentur Anggaran
  • Perencanaan Fasilitas Pendukung PLBN Rampung
  • Polisi Sebut Tinggal Pemeriksaan Saksi Ahli
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • K OLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • KALIMANTAN TIMUR
  • KALIMANTAN TENGAH
  • KALIMANTAN SELATAN
  • KALIMANTAN UTARA
  • KALIMANTAN BARAT
  • TENTANG KAMI
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
Find Us
Copyright &copy 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .Sumber: Berita Kalimantan Utara

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »