www.AlvinAdam.com

Berita 24 Kalimantan Utara

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Anak Perbatasan Indonesia Kejar Ilmu di Negeri Panda

Posted by On 17.33

Anak Perbatasan Indonesia Kejar Ilmu di Negeri Panda

logo

Ilustrasi : Edi Wahyono

Foto-foto : mahasiswa Indonesia di Cina/dokumentasi Yayasan ITCC

Sabtu, 05 Mei 2018

Masygul hati Azroy saat naik kelas III Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Sebatik Barat di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Tinggal setahun bersekolah, dia justru tak punya bayangan akan seperti apa masa depannya. Seperti anak-anak lain, Azroy juga punya keinginan besar melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebi h tinggi. Tapi, bagi dia, keinginan itu rasanya sejauh pergi ke bulan.

Keluarganya hidup sangat pas-pasan. Kedua orang tuanya sudah lama pergi jauh merantau ke Sandakan, Sabah, Malaysia, untuk bekerja di sebuah perkebunan sawit. "Ayah jadi sopir di kebun sawit, ibu juga ikut ke sana," ujar Azroy kepada detikX, Rabu lalu.

Azroy beserta ketiga adiknya menetap di Mantikas, Sebatik Barat. Mereka berempat tinggal bersama sang nenek. Mantikas adalah sebuah desa yang hanya berjarak kurang dari satu jam berkendara roda dua dari garis batas dengan negara jiran Malaysia. Saking dekatnya dari Malaysia, hampir semua barang kebutuhan berasal dari negeri seberang. "Bisa dikatakan perut kami di Malaysia," kata Azroy sambil tertawa. "Tapi hati kami tetap Indonesia."

Penghasilan orang tuanya yang tak seberapa besar membuat Azroy harus berjuang ekstra. Apalagi adik-adiknya juga membutuhkan biaya untuk sekolah. Sejak kelas II SMK, lelaki kelahiran 21 t ahun lalu ini melamar jadi guru bantu di sebuah sekolah dasar. Sepulang sekolah, Azroy tak bisa bersantai, ia langsung menuju SD Insan Mulya Sebatik Barat. "Saya mengajar sore untuk kelas IV," katanya. Tak hanya itu, Azroy juga menyempatkan diri menjadi pelatih Pramuka di sebuah SD negeri.

Kesempatan datang kepada Azroy saat Yayasan Indonesia Tionghoa Culture Center (ITCC) datang ke Pulau Sebatik mengenalkan program beasiswa ke China pada awal 2016. "Saya pikir ini peluang besar dibanding mengharapkan kuliah di Indonesia," katanya. Apalagi, kata Azroy, syarat-syaratnya terbilang sangat mudah. "Cukup fotokopi rapor, kartu keluarga, dan paspor. Tanpa seleksi," ujarnya. "Uang kuliah dan asrama gratis, jadi saya hanya tanggung biaya makan saja."

Saya tidak cari orang pintar. Saya hanya cari orang yang punya niat mau mengubah nasibnya."

Andre So, Koordinator Yayasan Indonesia Tionghoa Culture Center

Tanpa pikir panjang, Azroy membulatkan niatnya. Ia pun mengabarkan rencananya kepada orang tuanya di Sabah. "Untungnya, mereka merestui," katanya. Demi Azroy bisa kuliah di China, orang tuanya rela berkorban meninggalkan pekerjaan di perkebunan sawit di Sabah dan kembali ke Sebatik. "Kalau saya berangkat ke China, adik-adik tak ada yang awasi. Akhirnya saya mohon Bapak dan Ibu untuk pulang. Sekarang mereka bertani di Sebatik," tuturnya.

Azroy menjatuhkan pilihan pada jurusan bisnis internasional di Jiangsu Agri-Animal Husbandry Vocational College, Taizhou. "Saya memang cari jurusan yang bisa disambi bekerja,&qu ot; katanya. Kota Taizhou terletak di tepian Sungai Yangtze, masuk dalam Provinsi Jiangsu, sisi sebelah timur daratan China. Letaknya kira-kira 12 jam perjalanan berkereta api dari Ibu Kota Beijing.

Ganjalannya kini hanya satu, persoalan bahasa. Untungnya, pihak ITCC memfasilitasi kursus bahasa Mandarin bagi Azroy dan kawan-kawannya setelah pengumuman ujian nasional. Rombongan dari Kabupaten Nunukan sebanyak 60 orang, termasuk 11 orang dari Pulau Sebatik. Mereka lantas dikumpulkan di Banjarmasin untuk mendapatkan kursus bahasa Mandarin secara intensif selama hampir 2 bulan.

Kelompok calon mahasiswa dari Pulau Sebatik ini akhirnya berangkat menuju China pada Oktober 2016. Sebelumnya, mereka dilepas di Surabaya bersama rombongan calon mahasiswa dari daerah lainnya. Tak butuh waktu lama bagi Azroy untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. "Beruntung, saya bisa cepat berbahasa Mandarin dengan baik," katanya.

Soal makanan pun tak jadi soal. Kampus temp atnya berkuliah menyediakan kantin untuk makanan halal. "Saya senang di sini. Saya sudah merasa seperti di negara sendiri," kata Ketua Asosiasi Mahasiswa Indonesia di Jiangsu tersebut. Perhatian para pengajar di kampus semakin membuatnya betah. Ketika mahasiswa tak ikut perkuliahan, dosen akan mengecek langsung ke asrama. "Pelayanan di sini luar biasa. Perhatian dosen pada kami itu seperti orang tua kepada anaknya. Sakit sedikit saja khawatirnya minta ampun."

Angan-angannya kuliah sambil bekerja juga telah terwujud. Azroy mengaku sudah 5 bulan magang di sebuah perusahaan kompresor yang sedang berekspansi di beberapa daerah di Indonesia. Kontrak untuk bekerja di perusahaan tersebut selepas kuliah pun telah disepakatinya. "Saya sih mintanya ke rja di China dulu 2 tahun baru dipindahkan ke Indonesia. Saya mau menambah jam terbang dulu. Harus benar-benar matang."

Kesempatan menjalankan ibadah, kata Azroy, juga tak menjadi persoalan. Saat ada persepsi di Indonesia kebebasan beribadah di negeri China dibatasi, ia mengaku tak mendapat halangan. "Atasan saya di perusahaan bahkan kasih waktu khusus 15 menit bagi saya untuk salat. Terserah mau di mana saja asalkan tak mengganggu aktivitas karyawan lain," dia menuturkan.

Sekian tahun yang lalu, barangkali jarang orang Indonesia yang berpikir untuk kuliah di Tiongkok, apalagi dengan biaya sendiri. Tapi sekarang, setiap tahun ada ribuan warga Indonesia yang terbang ke Beijing, Shanghai, Tianjin, Nanchang, Wuhan, dan kota-kota lain di Cina untuk menuntut ilmu. Raynaldo Aprillio, Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT), menaksir, ada sekitar 14 ribu warga Indonesia yang kini bersekolah di pelbagai kampus di Negeri Tirai Bambu.

D i kota Wuhan saja, menurut Fadil, Sekretaris PPIT Cabang Wuhan dan mahasiswa S2 jurusan Developmental and Educational Psychology di Central China Normal University ada 300-an mahasiswa asal Indonesia. Ketimbang mencari beasiswa ke Australia atau Amerika Serikat, syarat dan persaingan mendapatkan beasiswa kuliah ke Cina memang lebih longgar. "Tapi dari tahun ke tahun peminatnya terus bertambah, sehingga persaingan makin ketat," ujar Fadil. Mahasiswa asal Aceh ini kuliah di Wuhan dengan beasiswa dari Pemerintah Tiongkok.

Bersama Azroy dari Sebatik, berangkat juga Darnah untuk menuntut ilmu ke Cina. Kisah Darnah tak jauh berbeda dengan Azroy. Ia putri seorang nelayan yang juga mantan buruh migran di Malaysia. Darnah masih ingat betul saat baru tiba di Kota Taizhou dan disambut cuaca dingin. "Baju tipis-tipis karena tak sempat beli di Indonesia. Akhirnya keluar asrama pakai baju berlapis-lapis," kata Darnah.

Hijab yang dikenakan gadis berdarah Bugis itu jug a rupanya menarik perhatian. Hampir setiap Darnah dan kawan-kawannya berjalan-jalan di kota, mata penduduk lokal mengikuti mereka. Seolah dikomando, kamera telepon-telepon seluler kompak mengarah ke Darnah. "Mereka bingung melihat kami. Sepertinya itu pengalaman baru bagi mereka. Kami sampai difoto atau divideoin," kata Darnah. Dia juga mengambil jurusan bisnis internasional di kampus yang sama dengan Azroy.

Faktor bahasa dalam proses perkuliahan kadang dikeluhkan Darnah dan kawan-kawannya. Pada masa awal perkuliahan, Darnah dan kawan sekelasnya biasanya mengajukan protes jika pengajar berbicara terlalu cepat. "Lause.. ngomongnya terlalu cepat. Kami tak mengerti. Untungnya, para dosen bisa mengerti kondisinya. Jadi mereka menjelaskan pelan-pelan."

Sayangnya , ketenangan Azroy, Darnah, dan kawan-kawannya sempat terusik berita yang muncul di Indonesia bahwa pelajar Indonesia di China dicekoki paham komunis. "Seandainya benar mahasiswa Indonesia di sini mempelajari komunis, silakan tulis saja. Tapi ini masalahnya tidak ada seperti itu. Kami merasa tersinggung. Kami di sini belajar ilmu bisnis, ekonomi, kedokteran, teknik. Bukan ideologi yang kami pelajari," kata Azroy.

Perjalanan anak-anak dari Sebatik menuju Taizhou tak lepas dari peran Andre So, Koordinator Yayasan ITCC, yang berpusat di Surabaya. Yayasan yang didirikan Dahlan Iskan pada 2001 ini, menurut Andre, awalnya membantu perusahaan Taiwan untuk merekrut tenaga kerja lokal yang fasih berkomunikasi dalam bahasa Mandarin. Kemudian berkembang menjadi fasilitator di bidang budaya dan pendidikan. Tahun 2007 adalah pertama kalinya yayasan ini merekrut sejumlah siswa untuk mendapatkan beasiswa dari beberapa kampus di China. "Awalnya sekitar 20 anak," kata Andr e kepada detikX, Kamis pekan lalu.

Kuota tersebut dari tahun ke tahun bertambah sehingga, saat Andre didapuk menjadi koordinator, ia memutuskan blusukan ke daerah terpencil di perbatasan, bahkan pedalaman, untuk mencari calon-calon mahasiswa untuk diberangkatkan ke China. Pemegang gelar master business administration dari Universitas Tianjin, China, itu mengisahkan pernah menempuh perjalanan ke daerah Lumbis Ogong di pedalaman Kabupaten Nunukan. Perjalanan tersebut jauh dari gampang. Andre harus naik kapal motor melintasi laut lepas, kemudian masuk ke sungai menuju hulu.

Masih di daerah Kalimantan Utara, ia pernah pula pergi ke Sei Menggaris di dekat perbatasan dengan Malaysia. Mayoritas penduduk daerah ini merupakan imigran gelap yang dideportasi dari Malaysia. Umumnya mereka berasal dari Nusa Tenggara Timur. Tak ada listrik 24 jam di daerah ini. "Lampu hanya hidup dari pukul 6 sore sampai 12 malam," kata Andre. "Saya dapat delapan anak yang berangkat dar i sana."

Pria asal Gorontalo ini juga berburu siswa sampai ke Papua. Ia pergi ke Kabupaten Supiori di Pulau Supiori. Andre berhasil mendapatkan 25 orang calon mahasiswa kedokteran di daerah yang berdekatan dengan Pulau Biak itu. "Pokoknya saya ke daerah 3-T: tertinggal, terdepan, dan terluar. Saya bekerja sukarela untuk yayasan ini tanpa bayaran. Ini bagian pelayanan saya," ujarnya. Niatnya menyisir dari pinggiran Indonesia bukan tanpa alasan. Menurutnya, anak-anak di perbatasan dan pedalaman tak seberuntung kawan-kawannya di kota. "Mereka ini terbatas mendapat informasi," katanya.

Atas alasan itu pula, Andre tak mengadakan tes seleksi bagi para remaja yang mau berangkat tersebut. "Tanpa tes. Orang pengin pintar kok dipersulit . Saya hanya mensyaratkan rapor, paspor, dan kartu keluarga. Langsung diterima," katanya. "Saya tidak cari orang pintar. Saya hanya cari orang yang punya niat mau mengubah nasibnya. Nantinya 3-T yang negatif itu berubah menjadi 3-T positif: terdepan, termaju, terbagus."

Mantan general manager sebuah pabrik elektronik di China itu pun mengaku tak khawatir dengan metode perekrutan yang dijalankannya. Menurutnya, selama 11 tahun ITCC mengirimkan para penerima beasiswa ke China, tak satu pun dari mereka yang dikeluarkan dari kampus. Bagi Andre, tak ada anak yang tak mampu mengikuti perkuliahan asalkan dibarengi kerja keras dalam belajar. "Memang ada satu-dua yang parah, tapi dibina terus oleh kampus. Kampus bilang, asalkan mereka normal belajar dan masuk perkuliahan terus, kalau tetap bego, itu salah sekolahnya. Tapi kalau bolos terus, ya, dipulangkan."

Reporter/Editor: Past i Liberti M
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]Sumber: Google News | Berita 24 Kaltara

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »