Pacu Kerja Sama RI-China di 4 Koridor Ekonomi Senilai USD51,93 M

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Pacu Kerja Sama RI-China di 4 Koridor Ekonomi Senilai USD51,93 M

Berita 24 Indonesia
Minggu, 15 April 2018
Pacu Kerja Sama RI-China di 4 Koridor Ekonomi Senilai USD51,93 M

Pacu Kerja Sama RI-China di 4 Koridor Ekonomi Senilai USD51,93 M

Rina Anggraeni

loading...
Pacu Kerja Sama RI-China di 4 Koridor Ekonomi Senilai USD51,93 M
Indonesia dan China kembali menjalin kerja sama yang ditandai dengan meneken 2 nota kesepahaman dan 5 kontrak kerja sama antara perusahaan-perusahaan kedua negara. Foto/Ilustrasi
A+ A- JAKARTA - Indonesia dan China kembali menjalin kerja sama yang ditandai dengan meneken 2 nota kesepahaman dan 5 kontrak kerja sama antara perusahaan-perusahaan dari kedua negara.
“Kami tidak ingin hanya bicara, bicara, dan bicara saja. Tapi kami ingin melihat implementasi. Kami ingin mel ihat terus terjalinnya kerja sama antar investor dari kedua negara, tidak hanya antar pemerintah saja," ujar Menko Luhut dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (15/4/2018).
Tidak hanya itu, Indonesia Global Maritime Fulcrum Task Force yang dikoordinasikan oleh dirinya sendiri, dengan melibatkan Kementerian Koordinator Perekonomian, Bappenas, Kementerian BUMN, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindusterian, BKPM, Menteri Pariwisata, Kemenkominfo, BPPT, dan beberapa pihak lainnya.
Lebih jauh, Menko Luhut mendorong kerja sama di 4 koridor ekonomi di Indonesia dengan nilai investasi mencapai total USD51,930 miliar. Koridor pertama adalah pembangunan infrastruktur, Kuala Namu Aerocity, dan kawasan industri di Sumatera Utara. Yang kedua pembangunan pembangkit listrik tenaga air dan kawasan industri KIPI Tanah Kuning di Kalimantan Utara.
Koridor ketiga yakni pembangunan Bandar Udara Internasional Lembeh, kawasan wisata Likupang, dan kawasan industri Bitung di Sula wesi Utara. Koridor yang terakhir adalah pembangunan techno park dan jalan tol di Bali.
Besarnya peluang investasi di Indonesia ini sangat disejui oleh Derek Lai selaku Vice Chairman Deloitte China Global Leader of Belt and Road Initiatives. “Di Asia Tenggara, Indonesia adalah negara yang sangat menjanjikan,” katanya
Dua nota kesepahaman yang berhasil disepakati yaitu menyangkut pengembangan mobil/motor listrik dan pengembangan Tanah Kuning Mangkupadi Industrial Park di Kalimantan Utara.
Sedangkan kontrak kerja sama pertama yang ditandatangani terkait pengembangan proyek hydropower di Kayan senilai USD 2 miliar. Kontrak yang kedua yaitu pengembangan industri konversi dimethyl ethercoal menjadi gas senilai USD700 juta.
Kontrak ketiga merupakan perjanjian investasi joint ventureuntuk hydropower plant di Sungai Kayan senilai USD 17,8 miliar. Yang keempat adalah juga perjanjian investasi joint venturepengembangan pembangkit listrik di Bali senilai USD1,6 miliar. Se dangkan kontrak kelima terkait pengembangan steel smelter senilai USD 1,2 miliar.
Selain itu, Menko Luhut sebagai Utusan Khusus Presiden RI untuk menjalin kerja sama strategis dengan RRT, menekankan pentingnya terus mendorong hubungan bisnis kedua negara demi kepentingan nasional. “Kita kan harus cerdas (karena) semua (negara) melihat peluang. Tinggal sekarang pintar-pintaran lihat peluang supaya lebih banyak untung,” papar Menko Luhut
Lantaran kemajuan yang berhasil dicetaknya, negara Tiongkok menurut Luhut harus dipandang sebagai peluang untuk memajukan Indonesia. Peluang yang dimaksud demi mencapai hasil akhir berupa peningkatan investasi di Indonesia yang memacu naiknya jumlah lapangan kerja, peningkatan produk domestik bruto (PDB) dan pertumbuhan ekonomi.
"PDB pasti meningkatlah, pendidikan pasti tambah, pertumbuhan tambah. Karena seperti Morowali sekarang pertumbuhan ekonominya 60%. Sekarang mau bikin lagi di Halmahera Utara, itu produksi baterai lithium , jadi tidak semua tertumpu di Jakarta,” terang dia. (akr)Sumber: Google News | Berita 24 Kaltara