www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Strategi Menghadapi Difteri

Posted by On 01.54

Strategi Menghadapi Difteri

Opini

Strategi Menghadapi Difteri

SECARA Nasional, Aceh menduduki ranking keempat dalam kejadian luar biasa (KLB) difteri setelah Jawa Timur 271 kasus (11 kematian)

Strategi Menghadapi DifteriKolase/TribunnewsWaspada Wabah Difteri yang Sebabkan Kematian, 4 Bahan Alami Murah Meriah Ini Diklaim Ampuh Menyembuhkannya

Oleh Muhammad Hidayat

SECARA Nasional, Aceh menduduki ranking keempat dalam kejadian luar biasa (KLB) difteri setelah Jawa Timur 271 kasus (11 kematian), Jawa Barat 95 kasus (10 kematian), dan Provinsi Banten 91 kasus (5 kematian). Penyakit difteri di Aceh ditetapkan sebagai KLB sepanjang 2017, tercatat ada 93 pasien suspect difteri dan 4 di antaranya meninggal dunia.

Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Bakteri ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian anak melalui obstruksi larings atau sumbatan pada saluran pernafasan atas dan peradangan pada dinding otot jantung atau miokarditis. Difteri sangat menular melalui percikan air liur.

Gambaran klinis difteri adalah demam 38 derajat celcius, mukosa hidung putih keabu-abuan (pseudomembran), mudah berdarah di laring atau tonsil, sakit waktu menelan, leher bengkak seperti leher sapi (bullneck), dan sesak nafas disertai bunyi.

Kasus dugaan difteri adalah kasus yang menunjukkan gejala demam, sakit menelan, pseudomembran, pembengkakan leher dan sesak nafas disertai bunyi (stridor). Dugaan difteri harus dikonfirmasi via laboratorium. Penyakit ini sebagian besar mengenai anak umur 1-5 tahun. Semakin dewasa usia, semakin kuat terhadap penular an difteri.

Imunisasi dasar
Saat ini 130 dari 194 negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mencapai cakupan 90% untuk DPT3 di tingkat Nasional, sesuai target dalam Global Action Plan. Tahun 2016, imunisasi dasar lengkap diberikan kepada 226.762 bayi (93,8%), di Kalimantan Utara cakupan terendah kepada 8.177 bayi (56,1%).

Cakupan itu sesuai laporan WHO dan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Anak-anak (Unicef) bahwa diseluruh dunia hamper 1 dari 10 bayi tak diimunisasi, disebut missing out atau hilang peluang, pada 2016. Ini berarti bayi tersebut berada pada risiko serius dari penyakit yang berpotensi fatal, seperti pada saat terjadi KLB difteri.

Apabila ditemukan satu anak penderita difteri, itu sudah merupakan KLB. Difteri harus dihadapi dengan mekanisme segera dibawa ke rumah sakit, diisolasi dan diobati dengan antibiotic dan anti-difteri serum (ADS). ADS selalu tersedia, tetapi terpusat di Direktora t Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan. Terhadap kontak penderita diberikan antibiotic eritromicin 500 mg selama 7-10 hari.

Kontak penderita adalah orang yang tinggal satu rumah, yang berbagi peralatan makanan minuman yang mungkin terkena secret penderita. Jika hasil laboratorium kontak penderita juga positif, dilanjutkan dengan pemberian antibiotic selama 7-10 hari sampai hasil pemeriksaan laboratoriumnya negatif.

Upaya lainnya untuk memutuskan rantai penularan penyakit adalah dengan ORI (outbreak respons immunization). Ruang lingkup meliputi semua anak balita di wilayah kasus ditemukan. Luasnya ORI adalah pada wilayah KLB, minimal satu wilayah puskesmas atau kecamatan, dan wilayah sekitar yang beresiko berdasarkan kajian epidemiologi. ORI dilakukan pada semua anak tanpa melihat riwayat imunisasi dan hasil laboratorium.

Halaman selanjutnya 12
Editor: hasyim Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Google News | Berita 24 Kaltara

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »