www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Telepon rumah yang terancam punah

Posted by On 17.13

Telepon rumah yang terancam punah

UNTUK INFORMASI LEBIH LENGKAP, IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Ilustrasi pesawat telepon kabel
Ilustrasi pesawat telepon kabel
© Bjorgvin Gudmundsson /Stockvault

Entah siapa yang masih aktif menggunakan telepon (tetap) kabel selain perkantoran. Telepon kabel yang bermula sejak zaman kolonial Belanda untuk menghubungkan Gambir dan Tanjung Priok (Batavia), itu kini terancam punah lantaran ditinggal pengguna.

Teknologi komunikasi modern Indonesia tak bisa lepas dari sejarah saluran telegraf yang pertama dibuka pada 23 Oktober 1855, oleh pemerintah Hindia Belanda. Telegra f saat itu mampu menghubungkan Jakarta-Singapura dan Jawa-Australia.

Lalu berkembanglah telepon lokal pada 1882 di Batavia, sekarang Jakarta. Dua tahun kemudian jaringan telepon dibangun di Semarang dan Surabaya. Saat itu fokusnya hanya di kota-kota besar yang mendatangkan untung, sehingga penyebaran jaringan telepon kabel tidak merata.

Pada masa perang kemerdekaan, jawatan Pos dan Telekomunikasi (PTT) diambil alih dari kekuasaan Jepang oleh Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon (AMPTT) di Bandung. Aksi pada 27 September 1945 itu setiap tahunnya kini diperingati sebagai Hari Bhakti Postel, menjadi hari bersejarah bagi telekomunikasi Tanah Air.

Berkembangnya teknologi komunikasi Indonesia kemudian ditandai dengan peluncuran satelit pertama bernama Palapa A1 dari Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral, Amerika Serikat. Satelit berbobot 574 kilogram saat peluncuran itu melesat ke angkasa diangkut oleh roket Delta 2914 pada 9 Juli 1976.

Indonesia menjadi nega ra ketiga di dunia yang mengoperasikan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) menggunakan Satelit GSO (Geo Stasioner Orbit) setelah AS dan Kanada. Palapa A1 berikut SKSD jadi gerbang utama berkembangnya layanan telepon dan faksimili antarkota di Indonesia saat itu. Istilah telepon rumah pun populer.

Popularitas yang terus melorot

Telepon tetap kabel, demikian Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutnya. Mungkin terjemahan bebas dari fixed wireline phone. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menjelaskan telepon rumah adalah jaringan telekomunikasi menggunakan perangkat telepon tetap dengan kabel yang diatur oleh standar teknis, termasuk nomor telepon.

Kini nasibnya merana. Data BPS menunjukkan, rumah tangga pengguna telepon tetap kabel di 34 provinsi di Indonesia menurun setiap tahunnya. Di Sulawesi Barat--provinsi yang terbentuk pada 2004--mencatat pertumbuhan terburuk, -92,04 persen. Turun dari 2,26 persen pada 2012 menjadi 0,18 persen lima tahun kemudian.

Pertumbuhan positif yang dicatat Kalimantan Utara, karena provinsi tersebut baru terbentuk pada 2012, dan datanya mulai dicatat pada 2015. Sebanyak 3,38 persen rumah tangga sempat menggunakannya, lalu pada 2016 melorot ke 2,47 persen.

Provinsi yang masih tercatat paling banyak menggunakan jaringan telepon tetap kabel ini adalah DKI Jakarta. Nyaris seperempat rumah tangga di Ibu Kota tercatat masih menggunakan telepon kabel pada 2012. Tetapi angkanya terus turun menjadi 15,46 persen pada 2016. Disusul oleh Bali, yang juga mengalami pertumbuhan negatif.

Penurunan terjadi secara merata di semua pulau. Provinsi Aceh, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Papua Barat, dan Sulawesi Barat, hanyalah contoh bagaimana penurunan terjadi secara tajam dibanding provinsi lain sepulau. Hanya Banten ya ng mencatatkan penurunan kurang dari -50 persen, mewakili rekor di Pulau Jawa.

Pelanggan naik, pendapatan turun

Di sisi lain, data PT Telkom Indonesia menyatakan jumlah pelanggan segmen perumahan masih bertumbuh positif. Dalam laporan tahunan PT Telkom Indonesia Tbk (Persero), sambungan telepon kabel tidak bergerak ini disebut sebagai Plain Old Telephone Services (POTS). Meski pelanggannya tumbuh positif, penggunaannya negatif.

Laporan per 31 Desember 2016 menyatakan terjadi penurunan pendapatan dari layanan telepon tidak bergerak. Dibanding tahun sebelumnya, turun sebesar Rp74 miliar atau 1,7 persen karena menurunnya usage (penggunaan). Pada 2015 pun mencatatkan penurunan pendapatan fixed wireline POTS sebesar Rp25 miliar atau 0,6 persen.

Tren menukiknya pendapatan itu sudah berlangsung sejak 2012. Dalam laporan tahun tersebut, dinyatakan penurunan pendapatan mencapai Rp616 miliar, atau 10,2 persen akibat penurunan ARPU (average revenue per unit) serta pe nurunan pemakaian tersebab pergeseran ke layanan telepon seluler dan telepon nirkabel tidak bergerak.

Grafik menurun masih berlaku pada 2013 dan 2014. Pada 2013, penurunannya mencapai Rp710,9 miliar atau 13,2 persen--terbesar sepanjang periode 2012-2016--karena adanya penurunan pendapatan dari pemakaian lokal dan langganan bulanan. Lagi-lagi, tersebab bergesernya perilaku pengguna.

Kemudian pada 2014, pendapatan kembali merosot sebesar Rp399,5 miliar, atau merosot 8,6 persen karena turunnya local usage. Tren yang terus berlanjut hingga 2016, hingga mencatatkan penurunan pendapatan secara kumulatif sekitar Rp1,8 triliun.

Merosotnya penggunaan telepon tetap kabel atau fixed wireline ini seiring dengan peningkatan seputar konsumsi data dan internet. Pendapatan segmen perumahan pada 2016 sebenarnya meningkat sebesar 10,4 persen, dari Rp11.671 miliar pada 2015 menjadi Rp12.880 miliar setahun kemudian.

Peningkatan didorong oleh pendapatan dari layanan telekomunik asi lainnya sebesar Rp926 miliar atau 51,5 persen. Khususnya dari pendapatan bisnis perangkat teknologi pendukung telekomunikasi (CPE) sebesar Rp930 miliar atau 53,5 persen.

Selain itu, pendapatan data dan internet meningkat sebesar Rp163 miliar atau 2,9 persen sebagai hasil peningkatan pendapatan dari TV berbayar sebesar Rp591 miliar atau 141,8 persen. Meningkatnya pelanggan IndiHome sebanyak 8,3 persen punya andil besar.

Layanan telepon pun kini berpindah ke kabel serat optik, dengan teknologi voice-over internet protocol (VoIP). Migrasi marak terjadi dari kabel tembaga ke serat optik. Operator pelat merah ini bahkan menawarkan gratis bertelepon lokal maupun interlokal hingga 1.000 menit, terbungkus rapi dalam paket layanan IndiHome.

Sumber: Google News | Berita 24 Kaltara

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »