www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Pro Kontra Full Day School Diakhiri, Kebijakan PPK Tuai Masalah ...

Posted by On 12.37

Pro Kontra Full Day School Diakhiri, Kebijakan PPK Tuai Masalah ...

Meski berada di tengah kebun sawit diwilayah terpencil perbatasan Indonesia â€KOMPAS.com/SUKOCO Meski berada di tengah kebun sawit diwilayah terpencil perbatasan Indonesia â€" Malaysia, namun SMKN 1 Seimenggaris merupakan satu satunya sekolah yang menerapkan full day scholl di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara. Melalui full day school siswa justru terpacu membuat inovasi, sementara hari Sabut dan Minggu siswa dan guru memiliki waktu kebersamaan yang lebih banyak dengan keluarga.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebijakan lima hari sekolah atau yang lebih dikenal dengan istilah " Full Day School" menjadi catatan kritis kedua dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) terkait kebijakan di dunia pendidikan.

Catatan kritis pertama FSGI adalah tentang sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang langsung diterapkan 100 persen di seluruh Indonesia.

(Baca juga: Sistem Zonasi Langgar Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan)

Kebijakan "Full Day School", kata Sekjen FSGI Heru Purnomo, memicu kontroversi selama berbulan-bulan hingga dikeluarkannya Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Lima Hari Sekolah.

Pro dan kontra diakhiri oleh Presiden dengan mengeluarkan Peraturan Presiden No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Meski begitu, Heru menilai, penilaian PPK yang langsung diimplementasikan pada tahun ajaran 2017/2018 juga menimbulkan kesulitan tersendiri bagi guru dan sejumlah sekolah.

(Baca juga : Federasi Serikat Guru: 2017, Kekerasan di Dunia Pendidikan Makin Masif)

Misalnya, hampir di seluruh SMA unggulan di kota Mataram, NTB tidak bisa bagi rapor pada Sabtu, 16 Desember 2017 lantaran para guru kesulitan menyelesaikan proses penilaian PPK yang sangat rumit.

Hal tersebut disebabkan minimnya sosialisasi dan pelatihan dari pemerintah terhadap guru, termasuk pengintegrasian PPK dalam Kurikulum 2013.

Dengan demikian, PPK sekedar muncul secara administratif dalam dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru.

"Yang terjadi penilaian sikap yang merupakan implementasi PPK justru mengalami reduksi makna, sebab guru-guru melakukan penilaian PPK terkesan “asal-asalan”. Karena terkait dengan mendesaknya waktu untuk menginput nilai, apalagi bagi sekola h yang sudah menggunakan e-rapor," kata Heru dalam keterangan tertulis, Rabu (27/12/2017).

Ia berharap pemerintah mengevaluasi sistem penilaian berbasis PPK dalam Kurikulum 2013. Karena kurangnya sosialisasi, waktu yang mepet menginput nilai dan banyaknya indikator untuk mengukur sikap spiritual dan sosial, sehingga penilaian terkesan asal-asalan dan kurang valid.

Kompas TV Aksi unjuk rasa dilakukan warga pada Senin (28/08) pagi di Alun - Alun Kabupaten Batang, Jawa Tengah

Berita Terkait

Menteri Agama Imbau Sekolah Tidak Terpaksa Terapkan "Full Day School"

Bertemu Yenny Wahid, Menteri Muhadjir Jelaskan soa l "Full Day School"

Tolak "Full Day School", Ribuan Warga NU Semarang Usung 2 Keranda

Perpres Pengganti "Full Day School" Terbit Awal September

Pemkab Grobogan Dukung Penolakan Full Day School

Terkini Lainnya

Anggota ISIS di Irak dan Suriah Tersisa Kurang dari 1.000 Orang

Anggota ISIS di Irak dan Suriah Tersisa Kurang dari 1.000 Orang

Internasional 27/12/2017, 2 3:38 WIB Bongkar Pasang Ganda Puteri Buat Target Asian Games

Bongkar Pasang Ganda Puteri Buat Target Asian Games

Olahraga 27/12/2017, 23:35 WIB Hendra Setiawan Jadi Penghuni Pelatnas Utama

Hendra Setiawan Jadi Penghuni Pelatnas Utama

Olahraga 27/12/2017, 23:27 WIB Rusia Tuduh AS Latih Bekas Pejuang ISIS di Suriah

Rusia Tuduh AS Latih Bekas Pejuang ISIS di Suriah

Internasional 27/12/2017, 23:03 WIB Go   lkar dan Demokrat Berkoalisi, Sinyal Duet Dua 'DM' Menguat

Golkar dan Demokrat Berkoalisi, Sinyal Duet Dua "DM" Menguat

Regional 27/12/2017, 22:51 WIB Pondok Pesantren di OKI Terendam Banjir hingga Satu Meter

Pondok Pesantren di OKI Terendam Banjir hingga Satu Meter

Regional 27/12/2017, 22:29 WIB Bandar Narkoba yang Ditembak Mati di Depok Produksi Inex 10 Ribu Butir Sehari

Bandar Narkoba yang Ditembak Mati di Depok Produksi Inex 10 Ribu Butir Sehari

Megapolitan 27/12/2017, 22:28 WIB Raja Salman Bertemu PM Turki Bahas Status Yerusalem

Raja Salman Bertemu PM Turki Bahas Status Yerusalem

Internasional 27/12/2017, 22:27 WIB Sandiaga: Liburan Banyak yang Datang ke Monas, Delman Jadi Daya Tarik

Sandiaga: Liburan Banyak yang Datang ke Monas, Delman Jadi Daya Tarik

Megapolitan 27/12/2017, 22:09 WIB Tak Hanya Anies-Sandi, Pemerintah Pusat Juga Punya Program Rumah DP 0, tetapi...

Tak Hanya Anies-Sandi, Pemerintah Pusat Juga Punya Program Rumah DP 0, tetapi...

Megapolitan 27/12/2017, 22:04 WIB    Ditinggal PKS dan PAN, Demokrat Jalin Koalisi dengan Golkar di Pilkada Jabar

Ditinggal PKS dan PAN, Demokrat Jalin Koalisi dengan Golkar di Pilkada Jabar

Regional 27/12/2017, 21:58 WIB Pria asal Kanada Simpan Kado dari Mantan Tetap Terbungkus Selama 47 Tahun

Pria asal Kanada Simpan Kado dari Mantan Tetap Terbungkus Selama 47 Tahun

Internasional 27/12/2017, 21:51 WIB Tanggapi Tantangan Sri Mulyani soal WTP, Sandi Janji Kerja Lebih Keras

Tanggapi Tantangan Sri Mulyani soal WTP, Sandi Janji Kerja Lebih Keras

Megapolitan 27/12/2017, 21:35 WIB Anggaran Ditambah, Penerima Beasiswa LPDP Bisa Naik Tiga Kali Lipat

Anggaran Ditambah, Penerima Beasiswa LPDP Bisa Naik Tiga Kali Lipat

Nasional 27/12/2017, 21:28 WIB Di Balik Email Unik Bupati Kudus 'Musthofa_forpresident@yahoo.com'

Di Balik Email Unik Bupati Kudus "Musthofa_forpresident@yahoo.com"

Regional 27/12/2017, 21:08 WIB Load MoreSumber: Google News | Berita 24 Kaltara

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »