Orangutan Tapanuli, spesies baru orangutan yang masa depannya ...

Orangutan Tapanuli, spesies baru orangutan yang masa depannya ... ]]> ...

Orangutan Tapanuli, spesies baru orangutan yang masa depannya ...

]]> Orangutan Tapanuli, spesies baru orangutan yang masa depannya 'terancam'
Pongo tapanuliensisHak atas foto Andrew Walmsley

Kabar gembira sekaligus menyedihkan muncul terkait spesies orangutan.

Kabar gembiranya, awal bulan November, peneliti mengumumkan penemuan spesies baru orangutan di Sumatra Utara, yaitu Orangutan Tapanuli. Namun, kabar buruknya, habitat mereka di perbukitan Batang Toru kini terancam oleh pembangunan industri dan pertanian.

Satu jenis orangutan baru dengan nama ilmiah Pongo tapanuliensis atau orangutan tapanuli dinobatkan sebagai spesies orangutan ketiga setelah Pongo pygmaeus (orangutan kalimantan) dan Pongo abelii (orangutan sumatera). Orangutan Tapanuli menjadi tambahan spesies baru di kelompok kera raksasa dalam kurun waktu satu abad terakhir.

Profesor bioantropologi di Australia National University yang juga salah satu peneliti, Anton Cahyono, menuturkan penemuan ini diawali penelitian populasi orangutan Sumatera pada habitat terisolasi yaitu Ekosistem Batang Toru, Tapanuli. Penelitian kemudian dilanjutkan untuk meneliti ekologi, genetik dan populasi.

  • Spesies baru orangutan Tapanuli di temukan di Pulau Sumatra
  • Orangutan buta di Kalimantan jalani operasi mata
  • Melacak para pemburu orangutan di Kalimantan

"Baru awal tahun in setelah kawan-kawan melihat secara genetik mereka berbeda dengan orang utan dari Sumatra sendiri dan Kalimantan, mereka mencoba ingin tahu apakah secara morfologi juga berbeda. Baru kemudian pada awal bulan ini secara saintifik, secara ilmiah spesies baru ini dipublikasikan," ujar Anton kepada BBC Indonesia.

Dalam penelitian tersebut, Anton meneliti dimensi tubuh mereka atau morfologi dari orangutan Tapanuli dengan membandingkannya dengan tengkorak dari saudaranya di Sumatra dan Kalimantan.

"Setelah kita bandingkan, mayoritas dari karakter yang dia miliki itu lebih kecil dibandingkan dibandingkan orangutan yang berasal dari Kalimantan maupun yang dari Sumatra. Kita cukup confident bahwa ini berbeda," kata dia.

"Apalagi gigi taring atasnya, yang dari Tapanuli cukup unik karena dia sementara yang paling besar dibandingkan gigi taring dari orangutan yang dari Kalimantan dan juga dari daerah Aceh dan sebelah barat Sumatra Utara," imbuhnya kemudian.

Hak atas foto Andrew Walmsley

Perbedaan fisik antara Orangutan Tapanuli dan kedua jenis yang lain:

  • Tengkorak dan tulang rahang Orangutan Tapanuli lebih halus daripada Orangutan Sumatera dan Orangutan Kalimantan
  • Bulunya lebih tebal dan keriting
  • Orangutan Tapanuli jantan memiliki kumis dan jenggot yang menonjol dengan bantalan pipi berbentuk datar yang dipenuhi oleh rambut halus berwarna pirang
  • Mereka berbeda dengan fosil orangutan (berasal dari jaman Pleistosen akhir) berdasarkan ukuran gigi geraham
  • Panggilan jarak jauh (long call) jantan dewasa Orangutan Tapanul i berbeda dengan panggilan dari kedua jenis orangutan lain
  • Orangutan Tapanuli memakan jenis tumbuhan yang belum pernah tercatat sebagai jenis pakan, termasuk biji Aturmangan (Casuarinaceae), buah Sampinur Tali/Bunga (Podocarpaceae) dan Agatis (Araucariaceae).

Selain itu, warna bulu orangutan Tapanuli berwarna kayu manis, berbeda dengan warna bulu orangutan Kalimantan yang coklat gelap dan Sumatra yang berwarna coklat kemerahan.

"Dan juga kita perhatikan misalnya rambut di sekitar mulut dia seperti janggut dan kumis serta bulu-bulu di sekitar bantalan pipi seperti variasi di antara kalimantan dan Sumatra. Dan dari perilaku bersuara, ketika jantan ini bersuara, durasinya lebih panjang dan juga intonasinya atau frekuensinya berbeda dari dua spesies yang ada."

Hak atas foto Andrew Walmsley

Lalu bagaimana perilaku dari Orangutan Tapanuli ini? Peneliti Bogor yang mempelajari genétika konservasi dari spesies orangutan di Sumatra, Puji Rianti, menjelaskan.

"Sebagian besarnya memang tinggalnya di atas pohon, mereka jarang turun. Tidak seperti kebanyakan yang ada di Kalimantan, mereka banyak main di darat. Tapi untuk orangutan Sumatra pada umumnya, seperti Tapanuli ini, mereka tidak melakukan itu," kata Rianti.

Yang lebih mengkhawatirkan, imbuhnya, lantaran populasinya yang sedikit, hanya 800 ekor, betina yang aktif bereproduksi sangat sedikit.

"Mungkin hanya 1-2 individu yang kita lihat dia punya anak di situ."

Belum lagi, betina orangutan biasanya bereproduksi tiap 8-9 tahun sekali.

Hak atas foto SOCP

Berada dalam ancaman

Dengan menggabungkan sumber bukti genetika, morfologi, ekologi dan perilaku, para peneliti dengan percaya diri menyimpulkan bahwa populasi orangutan Batang Toru adalah spesies yang baru ditemukan, yang masa depannya sudah berada dalam ancaman.

Saat ini, populasinya yang tidak sampai 800 ekor membuat spesies ini termasuk dalam kategori hampir punah. Di sisi lain, mereka juga terhimpit oleh habitat yang semakin berkurang. Hal ini ditegaskan oleh Rianti.

"Bisa dibilang mengkhawatirkan karena memang ada rencana untuk pembuatan DAM untuk pembangkit tenaga air oleh pihak swasta. Ada rencana satu lokasi di habitat orangutan yang kebetulan di habitat itu adalah yang paling padat untuk orangutan Tapanulinya, tapi mereka punya rencana untuk membuka pembangkit tenaga air itu."

Hak atas foto SOCP

Pengembangan pembangkit listrik tenaga air ini dinilai dapat berdampak mengurangi habitat mereka yang tersisa hingga 8%. Mereka terkonsentrasi di fragmen hutan kecil dengan luas sekitar 1.000 kilometer persegi di kabupaten Tapanuli Tengah, Utara, dan Selatan.

Dari habitatnya sendiri, tersisa tidak lebih dari 10 kilometer persegi. Pengembangan di masa depan telah direncanakan untuk area tersebut, dan sekitar 15% habitat orang utan memiliki status hutan yang tidak dilindungi

Juru Kampanye Hutan Greenpeace, Ratri Kusumahartono, menegaskan hal ini layak menjadi perhatian lantaran sebelumnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merilis laporan yang menunjukkan jumlah orangutan di Sumatra dan Kalimantan itu terus menurun dalam periode satu dekade ini.

Laporan itu menyebutkan populasi orangutan menyusut dari survei sebelumnya yang dilakukan tahun 2004. Adapun kerusakan habitat adalah salah satu penyebab utama.

Jumlah orangutan ditaksir kini sebanyak 0,13 hingga 0,47 individu per kilometer persegi, menurun dari 0,45 hingga 0,76 individu per kilometer persegi.

"Jadi sebetulnya memang cukup mengkhawatirkan karena habitat populasi orangutan itu jadi salah satu indikator kualitas ekosistem di Indonesia, terutama kondisi hutan dan selalu ada hubungannya antara deforestasi atau berkuranganya jumlah area hutan, dengan populasi orangutaan karena memang habitat mereka di situ."

Dari habitatnya sendiri, tersisa tidak lebih dari 1000 kilometer persegi. Pengembangan di masa depan telah direncanakan untuk area tersebut, dan sekitar 15% habitat orang utan memiliki status hutan yang tidak dilindungi.

Hak atas foto SOCP

Maka dari itu, Greenpeace Indonesia mendesak ada upaya lebih dari pemerin tah untuk menjaga populasi orangutan, minimal tidak menurun dengan cara memproteksi area hutan yang masih ada di Indonesia.

"Di daerah Tapanuli Tengah, Utara dan Selatan itu memang sedang banyak perusahaan-perusahaan atau investasi yang sedang beroperasi di daerah tersebut, termasuk juga dari industri pertanian dan pembangkit listrik."

"Harapannya pemerintah dengan mengetahui jumlah orangutan di sana menurun apalagi di sana tinggal 800 jumlah populasi Orangutan Tapanulinya, seharusnya ada batasan terhadap aktivitas dari industri yang mengancam tadi."

Berdasar pada hasil Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Orangutan tahun 2016, saat ini diperkirakan terdapat 71.820 individu orangutan di Pulau Sumatera dan Borneo (Kalimantan, Sabah, dan Serawak), pada habitat seluas 17,46 juta hektare.

Populasi tersebut tersebar ke dalam 52 peta populasi (kelompok terpisah/kantong populasi), dan 38% di antaranya diprediksi akan lestari (viabl e) dalam 100-150 tahun ke depan.

Sumber: Google News | Berita 24 Kaltara

COMMENTS

Tulis Artikel
Nama

Lokal,3,Nasional,6,
ltr
item
Berita 24 Kalimantan Utara: Orangutan Tapanuli, spesies baru orangutan yang masa depannya ...
Orangutan Tapanuli, spesies baru orangutan yang masa depannya ...
https://ichef.bbci.co.uk/news/320/cpsprodpb/52F4/production/_98963212_togos-078.jpg
Berita 24 Kalimantan Utara
http://www.kaltara.berita24.com/2017/11/orangutan-tapanuli-spesies-baru.html
http://www.kaltara.berita24.com/
http://www.kaltara.berita24.com/
http://www.kaltara.berita24.com/2017/11/orangutan-tapanuli-spesies-baru.html
true
6236837920840040589
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy